
Bimtek Pengkodean Sistem iDRG (Indonesia Diagnosis Related Group) Terbaru 2025 -2026
DESKRIPSI
Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengkodean Sistem iDRG Terbaru dirancang untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, khususnya petugas rekam medis, dokter, dan staf administrasi rumah sakit dalam penerapan sistem pengkodean berbasis iDRG. iDRG merupakan metode klasifikasi pasien yang digunakan untuk menentukan tarif dan pembiayaan pelayanan kesehatan secara akurat, efisien, dan transparan sesuai standar Kementerian Kesehatan.
Bimtek ini memberikan pemahaman menyeluruh mengenai prinsip, prosedur, dan regulasi terbaru dalam pengkodean iDRG, termasuk teknik identifikasi diagnosa, prosedur, komorbiditas, serta konversi ke kelompok biaya iDRG. Peserta akan diajarkan cara menggunakan aplikasi dan sistem informasi rumah sakit untuk pengkodean, verifikasi data medis, dan pelaporan sesuai standar nasional.
Melalui pelatihan ini, peserta mampu meningkatkan akurasi pengkodean, meminimalkan kesalahan administrasi, dan mendukung efektivitas pengelolaan klaim BPJS serta audit internal rumah sakit. Metode pembelajaran meliputi presentasi interaktif, studi kasus, simulasi, dan diskusi kelompok untuk memastikan peserta dapat langsung menerapkan pengetahuan dalam praktik sehari-hari.
Bimtek ini sangat relevan untuk mendukung peningkatan mutu layanan kesehatan, transparansi biaya, dan kepatuhan rumah sakit terhadap regulasi terbaru pengelolaan data pasien berbasis iDRG.
Tujuan Bimtek Pengkodean Sistem iDRG (Indonesia Diagnosis Related Group) Terbaru 2025 -2026
- Meningkatkan pemahaman peserta tentang konsep dan prinsip pengkodean iDRG.
- Menguasai teknik pengkodean diagnosa dan prosedur sesuai standar Kementerian Kesehatan.
- Mampu mengidentifikasi komorbiditas, komplikasi, dan faktor penentu kelompok iDRG.
- Meningkatkan akurasi pengkodean untuk mendukung klaim BPJS dan pengelolaan rumah sakit.
- Memahami penggunaan aplikasi dan sistem informasi rumah sakit dalam pengkodean iDRG.
- Menunjang kepatuhan rumah sakit terhadap regulasi terbaru serta audit internal dan eksternal.
- Mendukung transparansi dan efisiensi biaya pelayanan kesehatan.
Materi Bimtek Pengkodean Sistem iDRG (Indonesia Diagnosis Related Group) Terbaru 2025 -2026
- Pengenalan iDRG: Definisi, tujuan, manfaat, dan regulasi terbaru.
- Prinsip Pengkodean Diagnosa dan Prosedur: Aturan dasar, standar nasional, dan klasifikasi penyakit.
- Pengelompokan iDRG: Komorbiditas, komplikasi, dan faktor penentu kelompok.
- Teknik Pengkodean Praktis: Studi kasus, simulasi pengkodean pasien, dan verifikasi data.
- Sistem Informasi Rumah Sakit: Penggunaan aplikasi pengkodean, input data, dan laporan.
- Audit dan Evaluasi Pengkodean: Cara mengecek akurasi data, memperbaiki kesalahan, dan persiapan audit.
- Klaim BPJS dan Manajemen Biaya: Integrasi iDRG dalam perhitungan tarif, klaim, dan efisiensi rumah sakit.
- Diskusi dan Studi Kasus: Penerapan pengkodean iDRG dalam situasi nyata rumah sakit.
Klasifikasi Peserta
- Direktur dan Wakil Direktur Rumah Sakit yang berperan dalam perumusan kebijakan strategis serta pengambilan keputusan.
- Dewan Pengawas atau Dewan Pengelola Rumah Sakit yang bertugas mengawasi penerapan tata kelola dan kepatuhan regulasi.
- Kepala Bagian Hukum dan Organisasi Rumah Sakit yang menangani aspek hukum, regulasi, serta penyusunan dokumen bylaw.
- Manajer Mutu dan Akreditasi yang bertanggung jawab memastikan standar layanan sesuai ketentuan Kemenkes.
- Kepala Bidang Medis, Keperawatan, dan Penunjang yang terlibat dalam pengaturan tata laksana pelayanan rumah sakit.
- Tim Penyusun atau Revisi Statuta Rumah Sakit yang secara langsung menyusun dokumen Hospital Bylaws.
- Staf Administrasi dan Sekretariat Rumah Sakit yang mendukung dokumentasi serta implementasi kebijakan internal.
- Pihak lain yang relevan, termasuk konsultan, akademisi, atau mitra strategis rumah sakit.
METODE Bimtek Pengkodean Sistem iDRG (Indonesia Diagnosis Related Group) Terbaru 2025 -2026
Pemaparan materi, diskusi, tanya-jawab, studi kasus, & simulasi langsung, dengan konsep:
– 20% teori berdasarkan literatur praktisi
– 40% analisa best practices & benchmarking antara; institusi, korporasi, & industri
– 40% studi kasus nyata & brainstorming antara narasumber/trainer dengan peserta



